Leadership and Coaching for Your Success

Leadership Coaching Transformation


Leave a comment

11 Ciri Organisasi Berkultur Peak Performance

Budaya suatu organisasi memberikan banyak sekali sinyal kepada kita tentang kemungkinan sukses dan survivenya suatu organisasi. Budaya organisasi terbentuk sebagai ekspresi sikap dan perilaku para pimpinan yang ada di organisasi tersebut. Organisasi yang memiliki budaya kinerja tinggi dapat dipastikan karena keberadaan para pimpinan yang tidak hanya mampu secara teknis namun juga memegang prinsip dan nilai-nilai yang universal. Pimpinan di organisasi berbudaya kinerja tinggi juga menunjukkan mindset leader yang kuat, teruji disaat kritis dengan membuat keputusan tepat walaupun berhadapan dengan dilema kepentingan ego pribadi dan perusahaan. Ciri khas organisasi berbudaya kinerja tinggi juga bisa terasa dengan adanya para leader yang berkomitmen serta dipercaya oleh anggotanya sebagai figur pimpinan. Kata kata mereka disimak dan menjadi petunjuk apa yang akan dilakukan oleh organisasi. Mereka mampu membangkitkan inspirasi melalui dialog, membangun motivasi, mendorong upaya tanpa kenal lelah disaat yang tidak mudah. Pimpinan ini juga mendorong terjadinya proses berkreasi melalui pola kolaborasi dan kemauan untuk memperbaiki diri secara sinambung. Pendek kata pimpinan di organisasi bebudaya kinerja tinggi ibarat dirigen orkestra yang mampu membawa ritme nada dan gerak team symphoninya mencapai sinkronisasi keindahan musik yang mampu membuat penontonnya terpesona. Mencapai taraf seperti ini tentu tidak mudah. Ada banyak tantangan, lika liku perjalanan, dan kompleksitas situasi yang harus diatasi serta dilalui oleh para pimpinan. Melalui tulisan ini kita akan membedah lebih dalam apa saja yang merupakan faktor kunci yang menentukan terwujudnya organisasi berbudaya kinerja tinggi.

Berikut adalah ciri-ciri organisasi yang Berbudaya Peak Performance:

  1. Organisasi yang pimpinan dan anggotanya saling memiliki trust. Dengan landasan trust yang kuat organisasi merespon cepat berbagai persoalan yang ada. Kordinasi untuk tindakan menjadi mudah dilakukan. Birokrasi menjadi minimal. Bonding atas perasaan satu satu keluarga menjadi kuat. Trust ini juga terbentuk karena di organisasi ini para leadernya dikenal memiliki integritas yang tinggi.
  2. Para atasan yang dihormati, dipercaya, diyakini karena kompeten dan konsisten. Para pimpinan ini juga terlihat mau berjuang dengan gigih bersama pasukannya dimedan pertempuran. Mereka ‘mau melebur’ menjadi satu dengan prajuritnya.
  3. Para pimpinan yang dekat dengan bawahan dan memasyarakat. Mereka tidak menjaga jarak dan mudah diakses oleh anggotanya. Kesan petinggi dan jarak hampir tidak dirasakan oleh orang orang di organisasi ini. Mereka dikenal memiliki empati, mau mendengar dan peduli terhadap apa yang sedang terjadi di lingkungan organisasinya.
  4. Kultur organisasi yang menanamkan perilaku fairness, objektifitas, dan keterbukaan (opennness). Mereka yang berprestasi dan berkontribusi akan naik. Loby dan kedekatan menjadi pertimbangan terakhir. Diatasnya adalah kompetensi, konsistensi, komitmen, dan integritas ketika sesi pemilihan pimpinan dilakukan. Jika anda di organisasi ini anda bisa memprediksi siapa siapa yang akan terpilih karena kriteria yang jelas dan proses yang transparan.
  5. Kultur organisasi yang menekankan efisiensi, efektifitas dan produktifitas. Perilaku atasan menunjukan contoh kesahajaan. Mereka tidak ‘memanfaatkan’ dan mengambil keuntungan pribadi dari fasilitas jabatan. Para karyawanpun sadar betul akan cost dan efisiensi. Mereka merasa ikut memiliki serta menjaga aset perusahaan.
  6. Kultur dimana para atasan amat responsive dan helpful terhadap apa yang dibutuhkan oleh rekan kerja dan juga anggota teamnya. Mudah meminta bantuan dan kerjasama. Tidak saling melempar tanggung jawab dan mencari kambing hitam jika ada permasalahan.
  7. Kultur kreatif, fleksibel dan adaptif. Mesin inovasi organisasi bergerak dengan cepat. Mereka kontinyu mengkalibrasi perkembangan dunia luar dan mencermati apa yang terjadi dengan kompetitor? apa yang berubah dengan selera konsumen? apa yang terjadi dengan perubahan regulasi atau teknologi? apa yang harus segera dilakukan sebagai terobosan organisasi? produk dan jasa apa yang perlu dimodifikasi atau bahkan diubah total?
  8. Organisasi yang para pimpinannya memiliki mindset pembelajar (tidak meganggap dirinya yang paling hebat, rendah hati dan mau mengakui kebenaran dari pendapat lain), peka, open terhadap perbedaan, mau mendengar, tidak larut dalam comfort zone, dan nyaman ketika dirinya diberi feedback atau kritik terbuka. Kita bahkan bisa melihat para top management organisasi ini mau duduk bersama karyawannya mengikuti sesi training ataupun fasilitasi bersama. Mereka menunjukan antusiasmenya untuk ikut dalam proses belajar. Karyawan juga merasa berkembang dalam dirinya baik dari sisi skills, knowledgenya dan opportunity yang ada. Mereka tidak merasa stuck di posisinya.
  9. Organisasi yang terisi oleh orang orang yang dipilih secara objektif. Ini bisa dilihat dari siapa siapa yang dipercaya memegang tampuk pimpinan. Mereka adalah para pekerja profesional sejati dan sarat dengan prestasi dalam pencapaian bisnis dan membangun kemampuan internal organisasi.
  10. Karyawan di organisasi tersebut merasa mereka ingin memberikan yang terbaik bagi perusahaan dan kontribusi mereka optimal. Karyawan merasa happy dan ada balance dalam menjaga kesehatan dan waktu untuk keluarganya disamping kesibukannya bekerja.
  11. Organisasi yang membangun keunikan unggul dalam industrinya dan menjadi benchmark bagi para pesaingnya. Organisasi ini berinvestasi ke people, teknologi, infrastuktur, proses bisnis dan melakukan strategic aliansi dengan pemain regional atau global.

 

Ke-11 point diatas merupakan indikasi adanya budaya berkinerja tinggi suatu organisasi. Semakin banyak simptom yang ditunjukan oleh organisasi yang mirip dengan ke-11 point diatas, semakin dekat suatu organisasi memiliki kultur peak performance.

Kultur suatu organisasi tidak terbentuk dalam masa yang pendek. Namun kultur yang telah dipupuk dan dibangun bertahun tahun dan menjadi soko guru praktek organisasi yang baik, bisa lebur atau terkikis dengan kedatangan top leader yang mempraktekan apa yang menjadi kebalikan dari ke-11 ciri-ciri diatas.

Tidak sedikit organisasi yang saya temui dalam pekerjaan saya selaku fasilitator transformasi, dimana para leadernya merupakan faktor utama yang menjadi pemicu kultur organisasi menjadi loser (kalah dalam peta persaingan bisnis).

Untuk membangun kembali kultur suatu organisasi agar menjadi peak performance syrat yang mutlak adalah adanya mindset para leader yang sinkron menuju kedekatan dengan ciri-ciri kultur peak performance. Ini bisa dibangun melalui upaya transformasi di sisi Mindset, Capabilities dan System support yang saling sinkron.

Leksanath@hotmail.com