Agile Leadership | Mindset Transformation | Executive Coaching

Leadership and Coaching for Peak Performance


Leave a comment

4 Kelompok Belief yang Berpengaruh Pada Pembentukan Mindset

building-leader
Mindset manusia bisa dikatakan seperti iceberg atau gunung es. Ibarat kita bisa melihat permukaan gunung es yang ada diatas permukaan air laut, perilaku manusia juga bisa kita lihat dan rasakan dari apa yang tampak dan terasa langsung seperti: mimik muka, gerak badan, gesture, volume dan nada ketika berbicara. Kita juga bisa mendengarkan isi percakapan dari apa yang disampaikan seseorang. Kita bisa merasakan emosi atau mood yang sedang terekspresikan. Pada saat yang sama kita tidak bisa melihat, mendengar dan mengerti secara utuh apa yang sebenarnya terjadi didalam diri seseorang. Mengapa seseorang bisa melakukan tindakan tertentu yang kadang bagi orang lain tidak masuk di akal mereka? Apa yang berkecamuk dalam pikirannya sebelum bertindak? Bagaimana perasaan yang ada didirinya saat motif tindakannya tercetus? Apa yang menjadi keyakinan dirinya tentang apa yang benar dan salah? Apa yang menjadi kebutuhan dirinya? Untuk mengetahui hal yang terdapat dalam internal diri seseorang kita hanya dapat memahami secara lebih utuh ketika kita bisa ‘masuk’ lebih jauh kedalam diri orang tersebut. Dengan kata lain kita perlu meresapi apa yang ada dibawah permukaan iceberg seseorang.

Apa yang ada diatas permukaan air mewakili sepuluh persen dari apa yang bisa kita lihat secara kasat mata dari diri seseorang. Sedangkan apa yang ada dibawah permukaan air atau kondisi internal mewakili hampir sembilan puluh persen dari diri orang tersebut.

Dengan kata lain jika kita ingin melakukan perubahan di organisasi atau individu maka para leader organisasi perlu meninjau kembali apa pemahamannya tentang iceberg dirinya sendiri dan juga iceberg yang dimiliki oleh orang-orang yang dipimpinnya. Iceberg yang berada dibawah permukaan inilah yang merupakan penggerak dari semua sikap dan tindakan yang tampak oleh kita. Tanpa menyelam lebih dalam dan memahami iceberg diri, akan sulit sekali untuk membantu terjadinya perubahan di diri orang tersebut. Sebagai contoh berapa banyak diantara kita yang pernah memiliki niatan untuk mengurangi berat badan menjadi ideal? pernahkah anda berjanji untuk makan dengan asupan nutrisi yang lebih sehat? Bagaimana dengan ikhtiar awal tahun untuk mulai menjalankan rencana anda menjadi seorang wirausaha? Siapa yang pernah terlintas untuk pindah kerja ketempat lain dan menemukan tempat berkarir idaman? Siapa yang sempat berjanji untuk berolah raga tiga kali seminggu? Seiring dengan berlalunya waktu, tanpa terasa kita tenggelam oleh rutinitas sehari-hari. Rencana dan keinginan mulai pupus dan kandas oleh kejadian mendesak lainnya. Alasan pembenaran diri terjadi pada rencana yang tidak sejalan dengan kenyataan perilaku. Kita seakan kalah oleh keadaan dan menjadi kompromistis dengan alasan membenarkan diri. Coba kita ambil satu contoh dari keinginan anda yang sudah lama untuk dapat berubah di area kebiasaan tertentu yang anda lakukan (menunda cek dokter tahunan, menunda sampai hari terakhir pembayaran rekening listrik, menjadi lebih sabar dengan pasangan hidup anda, menghentikan kebiasaan merokok, dst). Dapatkah anda menemukan penghambat untuk melakukan perubahan di diri anda? Mengapa perubahan terasa sulit dilakukan? Kondisi interior diri yang dimaksud oleh Otto Scharmer adalah lapisan terdalam iceberg diri seseorang. Pendekatan iceberg membantu kita untuk menyelami lebih dalam apa yang menjadi source atau sumber diri kita. Termasuk didalamnya: apa pikiran yang ada dalam situasi tertentu, perasaan yang dialami, hal yang dianggap penting yang merupakan values.

Uncertainty

Dalam lapisan terdalam iceberg ada empat bentuk keyakinan atau belief yang penting karena sangat berpengaruh terhadap apa yang kita rasakan, apa yang kita pikirkan dan menjadi apa yang kita percaya benar untuk kita lakukan. Keempat belief tersebut adalah:

  1. Apa keyakinan kita dalam menentukan suatu hubungan diri kita dengan orang lain. Apakah kita menganggap orang lain sama atau tidak? apakah kita menganggap diri kita lebih tinggi? atau kita menganggap diri kita lebih rendah? Belief tentang hubungan dengan orang lain menentukan apakah kita cenderung menjadi orang yang bersikap superior atau sebaliknya inferior terhadap orang lain. Keyakinan atas hubungan yang sehat adalah keyakinan yang memandang bahwa semua manusia adalah setara nilainya terlepas dari suku, agama, ras dan asal usul. Keyakinan yang berdasar atas hubungan yang hirarkis  (ada yang tinggi dan ada yang rendah) biasanya akan menyangkal persamaan nilai manusia. Akibat yang ditimbulkan dari keyakinan hubungan yang hirarkis adalah perlakuan baik atau buruk. Baik terhadap mereka yang dianggap setara dan lebih tinggi. Buruk terhadap mereka yang dianggap tidak setara atau dibawahnya.
  2. Bagaimana mendefinisikan diri kita. Ketika kita merasa terlalu berlebihan kesuatu hal dan  menjadi sesuatu yang bukan diri kita, kita menyangkal kepribadian kita. Kita mengukur diri kita menggunakan sesuatu yang ada diluar diri kita. Sebagian besar dari kita  merasa harus mencocokkan diri agar bisa masuk secara pas kedalam suatu ‘kotak’. Kita menyesuaikan dan mematuhinya. Ketika kita menghakimi diri kita sendiri dalam hal menyesuaikan dan mematuhinya, kita sering merasakan kegelisahan. Kita mungkin berpikir kita tidak bisa melakukan hal-hal dengan benar. Namun, banyak diantara kita mengeluarkan tenaga yang besar untuk mengkoreksi apa yang ‘keliru’. Dalam situasi yang ekstrim, ketika seseorang didorong melakukan dan menjadi sesuatu yang lain (yang bukan dirinya), mereka mungkin akan menyerah dan mulai merasakan kemurungan serta depresi. Tirani yang menekan seseorang untuk menyesuaikan sangat kuat sehingga kebanyakan kita pada masa awal kehidupan menuruti keinginan orang lain. Tanpa kita sadari kita mencari jalan pintas dan akhirnya mengabaikan diri kita sendiri. Dalam model hirarkis dimana pendefinisian seseorang tergantung dari aturan orang lain. Virginia Satir pakar terapis keluarga mangatakan bahwa keadaan ini akan sangat membatasi orang tersebut untuk tumbuh dewasa menjadi pribadi yang kuat. Satir mendefiniskan bahwa manusia sama dlaam hal nilainya. Setiap insan manusia adalah keunikan yang berada dalam kombinasi kesamaan dan perbedaan diri manusia satu dengan lainnya. Tidak ada dua manusia yang memiliki sidik jari yang sama, namun kita juga memiliki kesamaan misalnya dalam hal bagaimana organ tubuh kita bekerja sehingga seorang ahli bedah dapat menangani operasi setiap manusia dengan pengetahuan mengenai organ tubuhnya yang sama. Pendefinisian
  3. Menjelaskan sebuah peristiwa atau kejadian. Dalam model dominan submisif, yang bersandar kepada menyesuaikan diri dan kepatuhan, kejadian-kejadian banyak dijelaskan dengan cara pandang garis lurus. Bahwa hanya ada satu cara yang benar, dan hanya ada satu sebab akibat. Dengan kerangka pikiran hanya ada satu cara yang benar, maka kita menerima ekspektasi diluar diri kita yang hanya ada satu cara yang benar untuk memandang realitas. Salah satu konsekuensi dari keyakinan ini adalah kita sering berperilaku seolah tidak melihat apa yang kita saksikan, tidak mendengar apa yang kita dengarkan dan tidak merasakan apa yang kita rasakan. Untuk meleindungi ego orang lain kita berperilaku seolah apa yang keliru adalah yang benar.  Sebagai pengganti dari penghakiman terhadap tindakan, reaksi dan interaksi orang lain, kita dapat mulai mengeksplorasi apa yang terjadi dibawah permukaaan. Apa keprihatinan, ketakutan, kekawatiran, apa yang dirasakan dan dihargai oleh orang tersebut.  Dengan cara ini kita bisa melihat perilaku sebagai hasil dari hubungan antar dunia internal dan kesternal seseorang. Ketika seorang anak tiba-tiba menendang adiknya yang sedang makan malam bersama kedua orang tuanya, sang ayah langsung menghukum si kakak. Yang tidak diketahui adalah dibawah mejam, kaki sang kakan selalu menendang-nendang adiknya dan dia sengaja melakukan ini. Apa yang terlihat kemudian adalah perilaku sang adik yang menurut orangtuanya ‘kurang ajar’ terhadap kakaknya. Cara pandang linear dengan menerapkan langsung hukuman terhadap perilaku seseorang tanpa melihat apa yang menjadi latar belakang kejadian merupakan contoh sederhana bagaiaman menerangkan suatu situasi terjadi. Jika kita hanya melihat apa yang ada di permukaan maka kemungkinan kita akan menjadi orang yang suka menghakimi orang lain.
  4. Keyakinan tentang apa yang akan terjadi terhadap perubahan. Bagi mereka yang percaya terhadap hubungan manusia yang ditentukan secara hirarkis, dan hanya memiliki satu cara pandang yang benar, maka akan ada kecenderungan menganggap perubahan sebagai sesuatu yang tidak diinginkan. Pengkondisikan pikiran dari kecil bahwa hanya ada satu jenis dunia dengan kebenarannya yang mutlak dan ketertutupan untuk terekspos terhadap kemungkinan adanya pola, pikiran, cara pandang lain yang juga memiliki kebenaran, akan sangat sulit lepas dari status quo mereka. Ketika manusia dapat mempersepsikan bahwa ada keunikan di tiap diri manusia lain dan menghargai perbedaan keunikan itu serta tidak menuntut kesamaan, maka kita akan menyambut dan menerima perubahan. Ketika keterbukaan untuk perubahan muncul maka pilihan baru dan kemungkinan menjadi ada.

Belief adalah pilar identitas seseorang. Belief memberi makna kepada kehidupan kita. Ketika belief membuat seseorang menjadi lebih terbuka, lebih peduli kepada sesama, mendorong terjadinya kolaborasi, menciptakan rasa kedamaian, mendorong kreatifitas, membuat kita menjadi bagian dari masyarakat besar yang saling menerima dan bekerjasama, membangun kemanusiaan, membuat dunia menjadi tempat yang lebih bagi bagi diri kita dan setiap manusia yang lain, maka belief yang kita yakini adalah jalan menuju keperwujudan diri kita pada intinya sebagai manusia. Makhluk ciptaanNya yang pada dasarnya penuh dengan rasa kasih dan sayang.

Leksana TH

leksanath@hotmail.com

http://www.sscleadership.com

Advertisements